Skip to main content

MUJAHADAH AN NAFSI

 

Mujahadah berasal dari kata jahada, artinya kesungguhan. Nafsi artinya diri. Jadi singkatnya Mujahadah An Nafsi adalah Kesungguhan diri. Dalam pembahasan ini mujahadah an nafsi diartikan menjadi control diri. Mengapa dari kesungguhan diri menjadi control diri? Jawabannya, nanti kita bisa fahami setelah membaca tuntas pembahasan ini.

Kata jahada adalah akar kata dari kata jihad. Kalian tentu sudah familiar dengan kata jihad. Ketika mendengar kata jihad, maka yang ada pada pikiran adalah perang. Betul begitu? saya kira pasti itu. Namun, Jihad tidak terbatas dalam perang saja. Kita lihat arti dasar jahada adalah kesungguhan. Maka jihad adalah kesungguhan. Pertanyaannya, kesungguhan dalam apa? Ya, kesungguhan dalam apa pun, kesungguhan dalam segala hal yang bernilai baik.

Nabi pernah berkata, kita telah pulang dari jihad kecil, menuju jihad akbar. seorang sahabat bertanya, apa itu jihad akbar? Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Jihad melawan diri sendiri”.

 

Jika kita perhatikan apa yang dikatakan Nabi adalah bagaimana kita mengontrol diri kita menghadapi hati kita, menghadapi hawa nafsu kita, menghadapi keinginan kita, bukan kebutuhan kita.  Ada orang yang butuh, ada orang yang ingin. Sesuatu yang dinginkan belum tentu dibutuhkan, tapi sesuatu yang dibutuhkan pasti diinginkan.

 

Kita bisa melihat bagaimana hubungan antara kesungguhan diri dan kontrol diri yang terdapat dalam kata jihad. singkatnya, Jihad adalah sebuah proses. Apa itu proses? menurut KBBI proses adalah rangkaian tindakan yang menghasilkan produk. Jika kita kita lihat jihad sebagai sebuah proses, orang yang melakukan jihad disebut dengan Mujahid; Perbuatan Mujahid adalah Mujahadah atau Mujahadah An Nafsi, hasil perbuatan itu adalah Jihad. Maka Mujahadah An Nafsi adalah sebuah sikap kesungguhan dalam diri kita untuk mencapai suatu perbuatan jihad.

 

Pertanyaannya, apakah kamu sedang berjihad? Saya jawab, tentu kamu sedang berjihad. Apa itu jihad? Ya, bersungguh-sungguh, bukan perang dalam bentu senjata. Tapi, kamu sedang berjihad menjadi pelajar yang secara sungguh-sungguh berusaha menjadi seorang yang cerdas.

 

 

Dalil atau Apa yang mendasari kita untuk melakukan Mujahadah An Nafsi adalah Q.S. Al Anfal :72, yang berbunyi

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

artinya

Sesungguhnya orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya di Jalan Allah, dan mereka yang memberi perlindungan dan pertolongan. Mereka saling melindungi satu sama lain. Dan mereka yang beriman tetapi tidak melaksanakan hijrah, maka tidak wajib bagimu untuk melindungi mereka hingga mereka berhijrah. Tetapi, jika mereka meminta pertolonganmu dalam urusan agama, maka tolonglah kecuali bagi mereka yang telah membuat perjanjian denganmu. Dan Allah Maha melihat terhadap apa yang kamu kerjakan [Q.S. Al Anfal: 72]

 

Mengapa harus mujahadah An Nafsi ? Jawabannya adalah karena hanya dengan kesungguhan diri apa pun yang kita inginkan pasti tercapai. Kemampuan kita mengontrol diri turut menentukan secepat dan sebaik apa kita akan mencapai tujuan yang kita ingin capai.

 

Sebelum jauh lagi, pertanyaan saya, apakah ada punya tujuan dalam hidup kamu? apakah kamu mengerti tujuan hidup kamu? lebih mudah lagi apakah kamu mempunyai cita-cita? jika kamu punya jawaban untuk pertanyaan itu, maka mujahadah an nafsi sangatlah penting.

apa saja nilai pentingnya:

1)      Kesungguhan adalah jembatan menuju ketercapaian keinginan.

2)      Kesungguhan adalah yang membuat kamu berani untuk mengejar yang diingkan.

3)      Kesungguhan, juga, yang membuat kamu siap terluka, siap cape atau sakit, bahkan sakit hati untuk mencapai yang kamu inginkan.

 

Dengan kesungguhan diri dan kemampuan mengontrol diri yang baik, perjalanan kita senantiasa dimudahkan. Apa tanda dimudahkan?  yang pertama kamu akan diberikan keyakinan yang besar bahwa yang kamu inginkan akan tercapai, yang kedua, kamu akan diberikan lingkungan yang siap membantu kamu mewujudkan keinginan kamu. Apa itu, mereka adalah teman-teman yang mendukung kamu.

 

Apakah yang teman yang tidak  mendukung akan hilang? tentu saja mereka tidak akan hilang, mereka adalah godaan untuk kamu. Apakah kamu akan tetap dengan keinginan yang besar untuk mewujudkan keinginan kamu atau tidak? Kamu sendiri yang menentukan. Bukan mereka. Mereka hanya decoy, umpan, godaan untuk kamu berpaling dari yang kamu inginkan. Semakin kamu kuat melawan godaan orang-orang yang akan menjauhkanmu dari keinginan kamu, semakin besar mujahadah an nafsi yang kamu miliki. Karena kamu tidak bisa lepas dari mereka yang menjadi decoy, maka ada hal yang harus kamu lakukan, yaitu :

1)      Tentukan tujuan. Kalau kamu tidak tahu tujuan, bikin saja. Misal. Saya ingin jadi juara 1 karate sekecamatan. selanjutnya;

2)      Cari tahu kemampuan kamu. Apakah kamu bisa karate? Oh, saya bisa nya ka-bali (ke bali), ya sudah jalan-jalan saja ganti tujuan lain. Tapi jika jawaban kamu adalah iya, saya bisa karate. Selanjutnya adalah;

3)      Tentukan cara mencapainya. Cara paling mudah adalah berguru. Berguru ke mana, pada siapa? Selanjutnya;

4)      Konsistensi berlatih. Konsisten artinya tetap. Konsisten adalah seberapa kamu disiplin dalam menjaga cara yang kamu lakukan untuk mencapai yang kamu ingin. terakhir;

5)      Tunjukan pada orang lain, semua keinginan dan usaha kamu.

 

Jika kamu mampu melakukan kelima hal tadi, maka kamu akan ditemukan dengan orang-orang yang akan membantu kamu mewujukan keinginan kamu. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Tidak ada jawaban pasti, Tapi Allah SWT yang mentakdirkan pertemuan kamu dengan mereka yang mendukung kamu. Kalau Mr. Bean berkata, God works with his mystical way, Tuhan bekerja dengan hal yang tidak bisa kita fahami. 

 

Karenanya, kamu jangan terlalu fokus dengan mengapa ada ini, ada dia, atau ada orang itu. kamu fokus saja dengan keinginan baik kamu. Apabila tidak, yang terjadi dalam hidup kamu adalah kamu akan semakin jauh dari apa yang kamu inginkan, yang paling menyakitkan adalah kamu akan semakin jauh dari orang-orang yang ingin membantu kamu, bahkan dari orang yang menyayangi kamu.

 

Maka mulailah untuk bermimpi, berkinginan, bercita-cita. Jangan takut bermimpi, bercita-cita, mumpung masih gratis, kita tidak akan didenda karena bercita-cita, berkeingnan; sebaliknya, tidak ada denda ketika kita tidak berkeinginan. Tapi, ingatlah, salah satu hal yang membuat manusia cepat mati adalah berhenti bercita-cita, berhenti berkeinginan, dan berhenti untuk mewujudkan cita-cita dan segala keinginan yang kita miliki.

 

Satu hal lagi, bertemanlah. Jangan takut berteman; jangan mikir lama-lama; jangan membatasi pertemanan. Hanya, tetap hati-hati dalam berteman. Ingat. An owl flock together with an owl, burung hantu—buek atau Burhan—akan bergabung bersama burung hantu lagi. Orang baik akan berkumpul dengan orang baik; orang jahat akan berkumpul dengan orang jaha lagi. Jika kamu orang baik dan berada pada lingkungan yang tidak baik, maka tetaplah berusaha baik. Jika kamu adalah berlian jangan biarkan orang memaksa kamu jadi mutiara; jika kamu berharga jangan biarkan diri menjadi sampah.

 

 

Tugas 1.

1.       Carilah Asbab nuzul atau sebab turun ayat Q.S. Al Anfal 72 boleh ke google atau nanya ustadz di tempat tinggal kamu. Setelah itu tulis penjelasannya secara ringkas di buku masing – masing

2.       Sebutkan hukum bacaan [tajwid] dari Q.S Al Anfal : 72, Tulis juga di buku kamu

3.       Jelaskan yang bisa kamu fahami setelah membaca tulisan saya di atas, tulis di buku juga.

 

tugas di kumpulkan di link pengumpulan tugas 

Comments

Popular posts from this blog

Tentang 16 Oktober 2009

by Asep Ahmad Maulana on Sunday, February 6, 2011 at 5:05pm Pagi, 16 October 2009 Sebait lagu mengalun indah, di saat ku torehkan sedikit tulisan dilembaran ini. Di saat pagi masih lekat dengan hitamnya sisa malam, di saat tabuh terhenti, suara-suara di masjid dan surah tak terdengar lagi. Pikiranku enggan untuk tenang, ada ego yang membuat aku merasa kecewa, ada nalar yang memaksaku harus merelakan hari ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Seminggu lalu aku merasakan kebahagian. Kebahagian akan suatu momen yang akan dijelang di hari ini. Aku tersenyum, aku berharap, aku cemas, aku menunggu, dan hari ini jelas, momen yang membahagiakan itu, tidak akan terjadi hari ini. Aku harus kembali mengatakan entah. Entah. Entah dan entah kapan akan terjadi semua yang kumimpi. Bagi orang lain ini sederhana, hanya masalah datang dan tidaknya kekasih yang tercinta; tetapi bagiku berbeda. Ego ini memaksa aku untuk memaksa dia datang ke sini, dengan pertimbangan dia harus i...

Dua jam bersama Bule

Met The Bule    By Asep Ahmad Maulana Met the bule . Begitulah disebutnya. Semalam sebuah pesan muncul di hp, “I have 3 bule (Australia, france, and Holland) any idea?” Dan pikiran pun bimbang. Aku rasakan kebimbingan. Mengapa? Aku sudah berhenti berbicara bahasa Inggris  sekitar 3 tahun dan tak pernah menggunakannya lagi, teakhir aku gunakan ketika Roolie dan Styn, dua  Bag packer Belanda  yang dibawa oleh seorang teman di Cianjur. Karena mereka orang belanda sangat mudah bagiku berbicara karena banyaknya warisan sejarah pemerintahan kolonial Belanda di daerahku. Dan, diwaktu itu aku masih aktif menggunakan bahasa Inggris.  Aku beranjak menuju rumah temanku untuk menemui tiga bule, dan semakin dekat langkahku semakin ngak karuan pikiranku. What will I do there? Pikirku terus bertanya hal itu. Tetapi, setibanya di sana. Sebaris senyuman aku dapatkan dari dua orang perempuan, Martinde dan Sarah. Martinda adalah seoran...

Semalam yang hangat.

by Asep Ahmad Maulana on Saturday, March 19, 2011 at 7:26am Suatu kebahagian, di saat malam menjelang, dan sayapnya mulai menutup alam. Hitam, kelam, dan setitik hujan menghantarkan malam yang sedikit terguncang dengan getaran gempa, dan aku tidak terperanjak dengan getaran yang cukup besar, larut dalam percakapan bersamanya. Percakapan yang sangat menyenangkan, bagiku, saat dia bercerita tentang hari-hari yang terlalui—biasa selalu aku yang memulai dan berbicara tentang diriku, tapi malam tadi ia bercerita tentang kehidupannya. Mungkin hal ini suatu yang sepele bagi yang lain tapi untukku tidak. Secara, jarak yang jauh intensitas pertemuan pun sangat jarang, hingga sms dan telepon lah yang menjadi peneman dan penjaga kepercayaan satu sama lain. Resiko memang tinggi. Hubungan jarak jauh ini, bagiku, hanya bisa dijaga dengan kejujuran diri terhadap diri, kejujuran diri terhadapnya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Karena tidak jarang hubungan seperti ini berakhir tan...