by Asep Ahmad Maulana on Sunday, February 6, 2011 at 5:05pm
Pagi, 16 October 2009
Sebait lagu mengalun indah, di saat ku torehkan sedikit tulisan dilembaran ini. Di saat pagi masih lekat dengan hitamnya sisa malam, di saat tabuh terhenti, suara-suara di masjid dan surah tak terdengar lagi. Pikiranku enggan untuk tenang, ada ego yang membuat aku merasa kecewa, ada nalar yang memaksaku harus merelakan hari ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya.
Seminggu lalu aku merasakan kebahagian. Kebahagian akan suatu momen yang akan dijelang di hari ini. Aku tersenyum, aku berharap, aku cemas, aku menunggu, dan hari ini jelas, momen yang membahagiakan itu, tidak akan terjadi hari ini. Aku harus kembali mengatakan entah. Entah. Entah dan entah kapan akan terjadi semua yang kumimpi.
Bagi orang lain ini sederhana, hanya masalah datang dan tidaknya kekasih yang tercinta; tetapi bagiku berbeda. Ego ini memaksa aku untuk memaksa dia datang ke sini, dengan pertimbangan dia harus istirahat dari kejemuan yang terjadi di Depok. Di sisi lain, rasioku terus memberikan alasan-alasannya, dia sibuk, banyak yang harus dikerjakan, pekerjaan dia menuntut, dia punya tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi, dia punya masalah yang cukup rumit, pelik, dan besar di sana. Dan, semua alasan itu akan terus bermunculan di saat aku menggunakan rasioku. Tapi egoku pun terus menekanku.
Masalah ego adalah masalah yang sangat rumit; aku menyadari kehadiran dia lebih dibutuhkan, lebih bermanfaat, dan bahkan lebih bernilai jika dia di sana saat ini di banding datang ke sini. Tetapi, ego tidak bisa menerima itu.
Sekarang harus gimana?! Meratap ego yang tak terwujudkan atau menerima rasio dan akal yang dengan jelas memberikan berbagai alasan yang harus ku terima?
The decision with me.
Aku akan membiarkan hatiku bekerja dengan sendirinya saat ini, di saat hati meminta meratap karena ketidak hadirannya, biarkanlah diri ini meratap atas hal itu. Dan saat hati ini di tenangkan dengan penerimaan akan alasan-alasan yang ku sebut sendiri, biarkan ia tegar dengan pilihan itu. Selayaknya sungai yang mengalir, ia akan tetap hidup dengan mengalirnya; di saat kerikil, atau batuan besar menghadang, ia akan tetapi tenang melewati semua itu. Di saat ada dedaunan hijau yang hinggap, atau sampah yang dilemparkan orang, ia tetap saja dengan tenang mengantarkan dedaunan hijau atau sampah itu, hingga seseorang memungut dari dirinya.
Di saat dedaunan hijau turut dalam perjalanan biarkanlah ia bersama perjalanan itu hingga
Comments
Post a Comment