Skip to main content

Husnu Zhan


Penduluan 

Berpikir adalah bagian dari hidup kita, kita tak akan pernah bisa melepaskan keseharian berpikir, baik memikirkan yang positif atau negatif atau baik dan buruk. Dalam pelajaran har ini kamu akan mempelajari bagaimana berpikir yang baik itu 


Apa yang kamu pelajari 

dalam pembelajaran ini kamu akan mempelajar hal berikut ini :

  1. Apa yang dimaksud dengan HusnuZhan
  2. Dalil Al Qur’an tentang Husnuzhan 
  3. Mengapa harus Husnu Zhan?
  4. Pentingkah Husnu Zhan dalam kehidupan ?
  5. Jenis – Jenis Husnu Zhan?
  6. Bagaimana Husnu Zhan berdampak pada kehidupan kita?
  7. Bagaimana cara Husnu Zhan yang benar
  8. Apa dampak Husnu Zhan pada diri kita sendiri


Pembahasan 

Husnuzhan berasal dari Bahasa Arab, terdiri dari dua buah kata dasar, yaitu husnu dan zhan. Husnu berakar pada kata Hasan, artinya baik. Sedangkan Zhan, artinya adalah sangkaaan. Maka secara arti perkata husnuzhan dapat diartikan berprasangka baik. Kita lebih kenal istilah ini dengan Positive Thinking, Berpikir positif. 

Berpikir positif atau positive thinking terdengar sangat akrab di telinga kita, tidak berbeda dengan lawan dari Husnuzhan, yaitu su’uzhan, begitu akrab di kehidupan kita. Kita begitu akrab dengan kata su’uzhon, bahkan dalam keseharian kita menyingkatnya lagi menjadi suudon —Kamu pasti lebih tahu suudon dibanding husnuzhan.

Berpikir positif adalah salah satu bagian terpenting dalam pembelajaran Akhlak di Agama Islam. Akhlak bukan etika, bukan tata krama, tapi  Akhalk lebih tinggi dari tata krama dan etika. Akhlak dibentuk dari 3 Proses, yaitu (1) Tahali, (2) Takhali, dan (3) Tajali. 

Tahali adalah proses mengisi diri dengan kebaikan, artinya kita belajar dan melaksanakan berbagai kebaikan yang kita tahu dan kita mampu; Takhali adalah mengosongkan dari perbuatan tidak baik, artinya kamu mempelajari hal-hal yang tidak baik dan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tidak baik; dan, Tajali adalah ketika kamu mempraktikan segala pemahaman kamu dalam bentuk perbuatan.

Lalu bagaimana ketiganya bisa menjadi akhlak? Ketika ketiga proses itu menjadi sebuah kebiasaan dan tidak berpikir dahulu ketika akan melakukannya, maka itu menjadi akhlak. Karenanya, ouput atau hasil dari akhlak pun ada dua, yaitu (1) Akhlak Mahmudah, Akhlak yang baik, dan (2) Akhlak Mazmumah, Akhlak yang tercela.  Mengapa bisa seperti itu? Hal ini disebabkan oleh manusia itu sendiri, apakah di fase Takholi dia mampu menjaga diri untuk tidak berbuat jahat atau tidak. 


Karena manusia akan mempelajari hal baik dan buruk secara otomatis dalam hidupnya, namun dia tidak secara otomatis memilih berbuat baik, maka berpikir positif pun perlu diajarkan. Saking pentingnya berpikir positif, Allah mengingatkan kita di dalam Q.S. Al Hujurat ayat 12:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang yang beriman, Jauhilah berbanyak prasangka. Sungguh sebagian prasangka (mendekatkanmu pada) dosa, Janganlah kamu menunduh (mencari kesalahan) orang lain, dan Janganlah kamu membenci satu sama lain. Apakah kamu suka memakan daging saudaramu sendiri dalam keadaan mati?


Berdasarkan ayat di atas kita harus berhati-hati dalam berprasangka, karena sebagian sangkaan sering salahnya bahkan bisa membuat kita mendapatkan dosa. Itulah salah satu alasan kita harus berpikiran positif. 

Alasan lain mengapa kita harus berpikir positif adalah karena 

Gratis, berikpikir itu gratis tidak bayar, melamun itu sehat, yang tidak sehat adalah ngalamun wae.

Melatih otak supaya bekerja, menurut para ahli otak itu ibarat pisau, semakin diasah dan dipakai akan semakin tajam. Jadi otak yang dipakai akan menjauhkan kamu dari sifat pelupa, pikun; Budak keneh pohoan, berarti otakna jarang dipake;

Diperintahkan Allah SWT. Contoh di ayat quran di atas, kita diperintahkan Allah SWT, tidak mungkin Allah SWT memerintahkan tanpa ada pahala. Jadi pasti berpahala;

Karena kita punya alatnya yaitu otak. Allah SWT memberikan modal untuk bertahan hidup di dunia ini, yaitu Akal, Hati, dan Tubuh. Jika salah satunya hilang, maka kita pasti tidak akan bertahan hidup.


Karena kita telah diberikan modal dasar maka gunakanlah semuanya itu. Jika kita mampu menggunakannya maka kita akan mampu menjaga hubungan baik dengan apa pun atau siapa pun sehingga kita akan mampu menjaga yang 

Berdasarkan hubungannya maka husnuzhan minimal terbagi menjadi 3 (tiga) jenis, Yaitu

  1. Terhadap Orang lain 
  2. Terhadap Allah SWT
  3. Terhadap diri sendiri

Husnuzhan terhadap orang lain cukup sulit dilakukan karena manusia memiliki pola otomatis dalam dirinya, yaitu ingat keburukan tapi lupa kebaikan. Pola ini adalah cobaan Allah SWT untuk kita dalam menjaga hubungan dengan orang lain. Pola ini juga yang membuat kita seringnya ber-su’uzhan dibanding ber-husnuzhan kepada orang lain. Mengapa seperti itu? salah satu alasannya adalah karena tidak semua orang disekitar kita, yang dekat dengan kita, dapat membahagiakan kita, dapat memberikan segala yang kita ingin.  Ini menimbulkan bentrokan dalam diri kita. Tekanan keinginan yang tinggi tidak dibarengi dengan kenyataan yang sesuai keinginan kita. Kita berharap dia seperti ini dengan harapan yang tinggi, eh, kenyataannya dia tidak sedikit pun mengikuti keinginan kita. Akhirnya, kita hanya bisa menganggap dia B-aja, dan menyimpan kecewa.

Hal ini agak mirip dengan bagaimana sikap kita terhadap Allah SWT, namun bedanya, sedikit keberanian kita untuk “menuduh” Allah SWT berbuat tidak baik pada kita. Kita sadari bahwa setiap hari kita tidak pernah lepas dari masalah baik itu dengan keluarga, teman, atau orang lain. Memang masalah yang kita hadapi bukan Allah SWT secara langsung yang mengirimnya, namun ketika kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, kita pasti akan mendekat kepada Allah SWT. Ketika jawaban dari Allah SWT dirasa lama dan tidak ada solusi, kita gusar, kita bingung, merasa tertekan, merasa tidak diperhatikan, seakan-akan Tuhan menyiksa kita dengan berbagai masalah. Kamu pun teriak dalam hati Why me? mengapa saya? naha kieu-kieu teuing—atau kalimat lainnya. Di saat itulah kamu diuji, bagaimana sikap kamu terhadap Allah. Apakah akan positif, dengan berbagai sangkaan yang kamu miliki? atau, Sebaliknya?

Hal ini pun tidak akan jauh berbeda dengan bagaimana sikap kamu terhadap diri sendiri. Dari ketiga jenis husnuzhan, terhadap diri sendiri adalah yang paling susah diantara ketiganya. Kita begitu mudah menyimpulkan orang lain baik atau jahat, tapi ketika saya tanya, sebaik apakah kamu? Apa baiknya kamu? Kebaikan apa yang kamu berikan kepada orang lain? Bisa jawab dengan cepat semua pertanyaan saya?


Saya yakin kamu akan berpikir keras, untuk mencoba menjawabnya. Beda dengan pertanyaan, Jeleknya kamu apa? Sifat jelek yang kamu miliki apa? Saya yakin kamu akan bisa menjawab dengan cepat. Kenapa? karena kita hidup dilingkungan yang terlalu memperhatikan kejelekan orang lain. Ketika seorang mendapatkan prestasi, misal menjadi juara sebuah perlombaan, orang akan turut bahagia dengan memberi selamat, minimalnya. Tapi berapa lama kebahagian itu? Coba misalkan kamu berbuat tidak baik, berapa lama orang akan mengingatnya? 

Karenanya berlajarlah berpikir positif, belajarlah melihat sesuatu dengan cara yang baik sehingga kita akan hidup dengan kebaikan. Bagaimana caranya?

  1. Perbaiki Niat, niat dalam hati turut menentukan sikap kita;
  2. Ketika sesuatu terlihat tidak baik, coba lihat dari sisi yang lain;
  3. Ketika orang mengecewakanmu, coba ingat apakah kamu pernah mengecewakan dia;
  4. Ketika kamu dibuat pusing oleh orang lain, coba ingat apakah kamu menjengkelkan;
  5. ketika kamu akan memutuskan sebuah hubungan, ingatlah saat kamu mengejar-ngejar dia.

Jika kelima contoh kondisi ini bisa kamu fahami, selanjutnya adalah tentukan sikap. Sikap yang baik, kadang menyakitkan, baik itu bagi diri sendiri atau bagi orang yang mendapat akibat dari keputusan kita, namun jika hal itu memang baik akan ada hasil yang lebih baik ketika kamu berani bersikap. There was a power from saying “NO”, ada manfaat yang besar ketika kita berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sreg di hati kita. Sebaliknya ada manfaat yang lebih besar ketika kamu mengatakan ‘Iya” ketika hati kamu menyakini itu baik untuk kamu. Intinya, Jujurlah dengan hatimu.

ketika kamu mampu jujur dengan perasaan kamu, maka sikap yang sejalan pun akan kamu tampilkan, ketika kamu berani bersikap dengan hatimu, maka mereka yang berperasaan akan senantiasa menyambutmu. Inilah salah satu diantara dampak atau efek yang bisa kamu rasakan. Lantas, bagaimana bila sebaliknya? Kamu tetap bohong dengan hati kamu, maka yang paling bisa kamu rasakan ada banyaknya kekecewaan, karena semakin kamu bohong dengan perasaanmu, semakin banyak pula orang yang akan membohongimu.

Ingatlah! 

Bencilah diri untuk dibenci orang lain!
Bohongilah diri untuk dibohongi orang lain!
cintailah diri sendiri untuk dicintai orang lain!
Sayangilah diri untuk disayangi orang lain!



Tugas:

Silahkan klik link berikut untuk melaksanakan tugas :

Tugas 1 bikin mind map atau peta konsep dari pembelajaran ini kumpulkan di link tugas

Tugas 2 Analisis diri menggunakan lembar berikut : analisis2

Tugas 3 Lakukan wawancara sederhana

Panduan  wawancara 

upload wawancara

waktu pengerjaan 1 minggu


Comments

Popular posts from this blog

Tentang 16 Oktober 2009

by Asep Ahmad Maulana on Sunday, February 6, 2011 at 5:05pm Pagi, 16 October 2009 Sebait lagu mengalun indah, di saat ku torehkan sedikit tulisan dilembaran ini. Di saat pagi masih lekat dengan hitamnya sisa malam, di saat tabuh terhenti, suara-suara di masjid dan surah tak terdengar lagi. Pikiranku enggan untuk tenang, ada ego yang membuat aku merasa kecewa, ada nalar yang memaksaku harus merelakan hari ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Seminggu lalu aku merasakan kebahagian. Kebahagian akan suatu momen yang akan dijelang di hari ini. Aku tersenyum, aku berharap, aku cemas, aku menunggu, dan hari ini jelas, momen yang membahagiakan itu, tidak akan terjadi hari ini. Aku harus kembali mengatakan entah. Entah. Entah dan entah kapan akan terjadi semua yang kumimpi. Bagi orang lain ini sederhana, hanya masalah datang dan tidaknya kekasih yang tercinta; tetapi bagiku berbeda. Ego ini memaksa aku untuk memaksa dia datang ke sini, dengan pertimbangan dia harus i...

Dua jam bersama Bule

Met The Bule    By Asep Ahmad Maulana Met the bule . Begitulah disebutnya. Semalam sebuah pesan muncul di hp, “I have 3 bule (Australia, france, and Holland) any idea?” Dan pikiran pun bimbang. Aku rasakan kebimbingan. Mengapa? Aku sudah berhenti berbicara bahasa Inggris  sekitar 3 tahun dan tak pernah menggunakannya lagi, teakhir aku gunakan ketika Roolie dan Styn, dua  Bag packer Belanda  yang dibawa oleh seorang teman di Cianjur. Karena mereka orang belanda sangat mudah bagiku berbicara karena banyaknya warisan sejarah pemerintahan kolonial Belanda di daerahku. Dan, diwaktu itu aku masih aktif menggunakan bahasa Inggris.  Aku beranjak menuju rumah temanku untuk menemui tiga bule, dan semakin dekat langkahku semakin ngak karuan pikiranku. What will I do there? Pikirku terus bertanya hal itu. Tetapi, setibanya di sana. Sebaris senyuman aku dapatkan dari dua orang perempuan, Martinde dan Sarah. Martinda adalah seoran...

Semalam yang hangat.

by Asep Ahmad Maulana on Saturday, March 19, 2011 at 7:26am Suatu kebahagian, di saat malam menjelang, dan sayapnya mulai menutup alam. Hitam, kelam, dan setitik hujan menghantarkan malam yang sedikit terguncang dengan getaran gempa, dan aku tidak terperanjak dengan getaran yang cukup besar, larut dalam percakapan bersamanya. Percakapan yang sangat menyenangkan, bagiku, saat dia bercerita tentang hari-hari yang terlalui—biasa selalu aku yang memulai dan berbicara tentang diriku, tapi malam tadi ia bercerita tentang kehidupannya. Mungkin hal ini suatu yang sepele bagi yang lain tapi untukku tidak. Secara, jarak yang jauh intensitas pertemuan pun sangat jarang, hingga sms dan telepon lah yang menjadi peneman dan penjaga kepercayaan satu sama lain. Resiko memang tinggi. Hubungan jarak jauh ini, bagiku, hanya bisa dijaga dengan kejujuran diri terhadap diri, kejujuran diri terhadapnya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Karena tidak jarang hubungan seperti ini berakhir tan...