Skip to main content

Romansa 2007: Disaat cerita kebahagian dan kesedihan berpadu


Apakah ini suatu keselahan baru? Aku sendiri tidak tahu. Apakah ini memang yang terbaik, atau yang baik? Lebih-lebih aku tidak tahu. Jalan yang ku pilih yang, mudah-mudahan tidak menciptakan masalah baru, mungkin esok baru aku akan tahu. Memang pesan teakhirnya: jangan hubungi saya lagi, itu cukup menyakitkan bagiku. Dia, mengapa dia selalu menyakiti dan membuat pikiranku tak karuan. Membuatku seakan tak mampu  berjalan bahkan berlari untuk mengejar masa depan. Apa maksud semua ini? Apa hadirnya adalah untuk memalingkanku dari apa yang aku impikan? Atau memang hadirnya untuk membimbingku ke jalan yang seharusnya aku ambil?

Itulah yang tidak ku mengerti hingga saat ini. Mengapa begitu pelik, begitu rumit, dan begitu sulit untukku pahami. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Perhatian kah? Kalau aku ingat, perhatian seperti apa lagi yang harus ku berikan? Serasa aku sudah memberikan seluruh perhatianku untuknya. Aku tidak pernah memikirkan wanita lain lagi, aku tidak pernah berfikir untuk mencampakannya, bahkan aku senantiasa bermimpi untuk membahagiakannya. Tetapi, apa yang aku dapat. Ditinggalkan.

Aku terima semuanya. Aku tidak memprotes keinginan, hingga suatu ketika aku rasakan bahwa ini bukan yang kami sepakati dulu. Berakhirnya hubungan kami, bukan menghancurkan ikatan yang ada. Tetapi, membangun ikatan lain yang membawa kami ke arah yang lebih baik. Apakah itu menjadi sahabat, teman, kekasih, pasangan, atau apa pun yang dipilih tidak menyisakan kekecewaan di satu pihak. Tapi, mimpi hanyalah mimpi, janji menjadi janji, tak satu pun terjadi. Tidak ada pilihan yang diambil. Itulah  yang menyesakanku dengan kelukaan. Aku tidak bisa, aku tidak bisa, aku sangat tidak bisa membenci.

Kebencian hanya akan menghancurkanku, atau membawaku kejurang yang lebih fatal. Dan, hal itu sungguh aku tidak mau untuk mengalami. Lima tahun dalam hayalan. Lima tahun aku buang waktu. Lima tahun aku senantiasa bermimpi, tampa pernah aku bangun untukku menjadikannya kenyataan. Aku tak mau itu terulang. Aku, simpel saja, inginkan ketenangan. Seperti semua orang, ingin bahagia, ingin cinta dan dicinta, ingin berpasangan. Tapi, aku sadar bahwa kebahagian tidak akan ada tanpa kepedihan. Dan, aku harus pedih untuk mencapai puncak kebahagian.

Berbicara sakit hati, tentu aku sakit hati atas kejadian itu. Dia senantiasa melihat kelemahan, kekurangan, dan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. Pernahkah ia melihat diriku dengan kebaikanku? Pernahkah ia mengingat keikhlasannya untuk mengucapkan perasaan yang ada dalam dirinya untuk kami? Aku tidak mau panjang-panjang, mengungkit itu. Tapi, aku manusia biasa. Aku memimpikan apa yang orang miliki. Aku memimpikan apa yang orang punyai. Aku memimpikan.

Kesadaranku mulai berbicara. Seperti yang ku baca tadi pagi, wisdom of insecurity. Nilai positif dari sebuah ketidak nyamanan. Kira-kira begitulah kalau aku coba untuk menterjemahkan. Aku temukan bahwa, kenapa aku senantiasa menginginkan bahagia di setiap detikku, padahal setiap detik yang kulalui adalah kebahagian. Aku senantiasa memandang kepedihanku adalah kepedihan. Padahal, dalam kepedihanku ada kebahagian. Kebahagian yang harus aku cari, kebahagian yang harus aku tafsirkan, sehingga kebahagiaan yang sempurna bisa kudapatkan.

Layaknya seekor hewan, mereka tidak pernah memikirkan kebahagian kemarin, atau memimpikan kebagian masa depan. Untuk mereka kebahagian adalah hari ini. Kebahagian adalah detik ini, kebahagiaan adalah sekarang. Itulah, sebenarnya, yang harus aku camkan. Ketika aku luka, ketika aku tersakiti, ada kebahagian yang sebentar lagi datang menggati duka yang ada. ketika kebahagiaan bersama, aku harus sadari bahwa kesedihan akan datang,

Depok, 23 Januari 2008

Comments

Popular posts from this blog

Tentang 16 Oktober 2009

by Asep Ahmad Maulana on Sunday, February 6, 2011 at 5:05pm Pagi, 16 October 2009 Sebait lagu mengalun indah, di saat ku torehkan sedikit tulisan dilembaran ini. Di saat pagi masih lekat dengan hitamnya sisa malam, di saat tabuh terhenti, suara-suara di masjid dan surah tak terdengar lagi. Pikiranku enggan untuk tenang, ada ego yang membuat aku merasa kecewa, ada nalar yang memaksaku harus merelakan hari ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Seminggu lalu aku merasakan kebahagian. Kebahagian akan suatu momen yang akan dijelang di hari ini. Aku tersenyum, aku berharap, aku cemas, aku menunggu, dan hari ini jelas, momen yang membahagiakan itu, tidak akan terjadi hari ini. Aku harus kembali mengatakan entah. Entah. Entah dan entah kapan akan terjadi semua yang kumimpi. Bagi orang lain ini sederhana, hanya masalah datang dan tidaknya kekasih yang tercinta; tetapi bagiku berbeda. Ego ini memaksa aku untuk memaksa dia datang ke sini, dengan pertimbangan dia harus i...

Dua jam bersama Bule

Met The Bule    By Asep Ahmad Maulana Met the bule . Begitulah disebutnya. Semalam sebuah pesan muncul di hp, “I have 3 bule (Australia, france, and Holland) any idea?” Dan pikiran pun bimbang. Aku rasakan kebimbingan. Mengapa? Aku sudah berhenti berbicara bahasa Inggris  sekitar 3 tahun dan tak pernah menggunakannya lagi, teakhir aku gunakan ketika Roolie dan Styn, dua  Bag packer Belanda  yang dibawa oleh seorang teman di Cianjur. Karena mereka orang belanda sangat mudah bagiku berbicara karena banyaknya warisan sejarah pemerintahan kolonial Belanda di daerahku. Dan, diwaktu itu aku masih aktif menggunakan bahasa Inggris.  Aku beranjak menuju rumah temanku untuk menemui tiga bule, dan semakin dekat langkahku semakin ngak karuan pikiranku. What will I do there? Pikirku terus bertanya hal itu. Tetapi, setibanya di sana. Sebaris senyuman aku dapatkan dari dua orang perempuan, Martinde dan Sarah. Martinda adalah seoran...

Semalam yang hangat.

by Asep Ahmad Maulana on Saturday, March 19, 2011 at 7:26am Suatu kebahagian, di saat malam menjelang, dan sayapnya mulai menutup alam. Hitam, kelam, dan setitik hujan menghantarkan malam yang sedikit terguncang dengan getaran gempa, dan aku tidak terperanjak dengan getaran yang cukup besar, larut dalam percakapan bersamanya. Percakapan yang sangat menyenangkan, bagiku, saat dia bercerita tentang hari-hari yang terlalui—biasa selalu aku yang memulai dan berbicara tentang diriku, tapi malam tadi ia bercerita tentang kehidupannya. Mungkin hal ini suatu yang sepele bagi yang lain tapi untukku tidak. Secara, jarak yang jauh intensitas pertemuan pun sangat jarang, hingga sms dan telepon lah yang menjadi peneman dan penjaga kepercayaan satu sama lain. Resiko memang tinggi. Hubungan jarak jauh ini, bagiku, hanya bisa dijaga dengan kejujuran diri terhadap diri, kejujuran diri terhadapnya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Karena tidak jarang hubungan seperti ini berakhir tan...