Apakah ini suatu keselahan baru? Aku sendiri tidak tahu. Apakah ini memang yang terbaik, atau yang baik? Lebih-lebih aku tidak tahu. Jalan yang ku pilih yang, mudah-mudahan tidak menciptakan masalah baru, mungkin esok baru aku akan tahu. Memang pesan teakhirnya: jangan hubungi saya lagi, itu cukup menyakitkan bagiku. Dia, mengapa dia selalu menyakiti dan membuat pikiranku tak karuan. Membuatku seakan tak mampu berjalan bahkan berlari untuk mengejar masa depan. Apa maksud semua ini? Apa hadirnya adalah untuk memalingkanku dari apa yang aku impikan? Atau memang hadirnya untuk membimbingku ke jalan yang seharusnya aku ambil?
Itulah yang tidak ku mengerti hingga saat ini. Mengapa begitu pelik, begitu rumit, dan begitu sulit untukku pahami. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Perhatian kah? Kalau aku ingat, perhatian seperti apa lagi yang harus ku berikan? Serasa aku sudah memberikan seluruh perhatianku untuknya. Aku tidak pernah memikirkan wanita lain lagi, aku tidak pernah berfikir untuk mencampakannya, bahkan aku senantiasa bermimpi untuk membahagiakannya. Tetapi, apa yang aku dapat. Ditinggalkan.
Aku terima semuanya. Aku tidak memprotes keinginan, hingga suatu ketika aku rasakan bahwa ini bukan yang kami sepakati dulu. Berakhirnya hubungan kami, bukan menghancurkan ikatan yang ada. Tetapi, membangun ikatan lain yang membawa kami ke arah yang lebih baik. Apakah itu menjadi sahabat, teman, kekasih, pasangan, atau apa pun yang dipilih tidak menyisakan kekecewaan di satu pihak. Tapi, mimpi hanyalah mimpi, janji menjadi janji, tak satu pun terjadi. Tidak ada pilihan yang diambil. Itulah yang menyesakanku dengan kelukaan. Aku tidak bisa, aku tidak bisa, aku sangat tidak bisa membenci.
Kebencian hanya akan menghancurkanku, atau membawaku kejurang yang lebih fatal. Dan, hal itu sungguh aku tidak mau untuk mengalami. Lima tahun dalam hayalan. Lima tahun aku buang waktu. Lima tahun aku senantiasa bermimpi, tampa pernah aku bangun untukku menjadikannya kenyataan. Aku tak mau itu terulang. Aku, simpel saja, inginkan ketenangan. Seperti semua orang, ingin bahagia, ingin cinta dan dicinta, ingin berpasangan. Tapi, aku sadar bahwa kebahagian tidak akan ada tanpa kepedihan. Dan, aku harus pedih untuk mencapai puncak kebahagian.
Berbicara sakit hati, tentu aku sakit hati atas kejadian itu. Dia senantiasa melihat kelemahan, kekurangan, dan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. Pernahkah ia melihat diriku dengan kebaikanku? Pernahkah ia mengingat keikhlasannya untuk mengucapkan perasaan yang ada dalam dirinya untuk kami? Aku tidak mau panjang-panjang, mengungkit itu. Tapi, aku manusia biasa. Aku memimpikan apa yang orang miliki. Aku memimpikan apa yang orang punyai. Aku memimpikan.
Kesadaranku mulai berbicara. Seperti yang ku baca tadi pagi, wisdom of insecurity. Nilai positif dari sebuah ketidak nyamanan. Kira-kira begitulah kalau aku coba untuk menterjemahkan. Aku temukan bahwa, kenapa aku senantiasa menginginkan bahagia di setiap detikku, padahal setiap detik yang kulalui adalah kebahagian. Aku senantiasa memandang kepedihanku adalah kepedihan. Padahal, dalam kepedihanku ada kebahagian. Kebahagian yang harus aku cari, kebahagian yang harus aku tafsirkan, sehingga kebahagiaan yang sempurna bisa kudapatkan.
Layaknya seekor hewan, mereka tidak pernah memikirkan kebahagian kemarin, atau memimpikan kebagian masa depan. Untuk mereka kebahagian adalah hari ini. Kebahagian adalah detik ini, kebahagiaan adalah sekarang. Itulah, sebenarnya, yang harus aku camkan. Ketika aku luka, ketika aku tersakiti, ada kebahagian yang sebentar lagi datang menggati duka yang ada. ketika kebahagiaan bersama, aku harus sadari bahwa kesedihan akan datang,
Depok, 23 Januari 2008
Comments
Post a Comment