Skip to main content

Mencari cinta atau membumikan cinta?


Adalah sebuah pertanyaan yang muncul dibenak setelah membaca sebuah tulisan mengenai cinta dalam salah satu tulisan teman. Begitu sederhana ia membahas cinta dengan perumpaan yang sederhana. Dan jika benar, salah satu kejujuran dalam cinta adalah kesederhanaan dalam mencinta. Kesederhanaan bukan berarti tidak mampu memberikan yang lebih, yang megah, yang wah, atau sesuatu yang dianggap berkesan dan mendalam.
 
Kesederhanaan, bagiku, adalah kemampuan untuk memahami dan memberikan apa yang diperlukan oleh pasangan. Sering kali kita merasa telah memberikan perhatian dan pemberian yang begitu berarti (menurut kita bagi dia) padahal belum tentu itu yang diperlukan. Hingga di suatu ketika kita lelah kita melepaskan begitu saja cinta yang telah dibangun bersama karena ada perasaan bahwa selama ini sesuatu yang kita berikan tidak pernah berarti baginya.

Berbicara cinta, berbicara suatu yang suci. Berbicara cinta berbicara Tuhan. Para ahli menuliskan bahwa cinta terhimpun dalam dua kata yang merupakan nama lain dari Allah SWT. Kata cinta itu terakum dalam sifat Allah yaitu rahman dan rahmin. Kata itu begitu jelas menyimbolkan bahwa pada dasarnya kasih dan sayang  adalah akar dari cinta, dan itu hanya ada pada Allah. Mengutif sebuah ayat dalam Al Qur’an:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imran: 159)
 
Dalam ayat ini dijelaskan “maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka”. Nah, jelas sekali bahwa pada dasarnya Allah lahyang mengajarkan manusia untuk mencintai satu sama lain, dengan berbagai cinta yang dimilkinya. Tetapi, apakah cinta itu sesuatu berasal atau sesuatu yang inheren (berada pada dirinya)?
 
Cinta merupakan potensi yang inheren bagi manusia. Ketika Allah menciptakan manusia, dengan sendirinya Ia menyimpan potensi cinta pada manusia itu untuk ditumbuh kembangkan. Sehingga dalam prosesnya, Allah membenamkan cinta dalam diri manusia untuk dikembangkan dalam kehidupan nyata di setiap detik yang terlalui. Kemampuan cinta mencinta manusia muncul karena proses pengimitasian, disadari atau tidak. Sebagai mana di jelaskan Ayat di atas Allah memberikan rahmatnya dan mencontohkan kepada manusia itu bagaimana berkasih melalui Alam beserta isinya dan manusia itu sendiri.
 
Salah satu problema saat ini adalah ketika seseorang—dalam hal ini remaja—sering kali mengatakan “krisis jati diri”. Seseorang senantiasa mencari dirinya, walau ia sadari bahwa diri adalah dirinya. Dalam menghadapi hal ini satu kunci yang harus dipahami adalah bahwa diri itu tidak dicari melainkan ditentukan. Maksudnya adalah kita tentukan diri kita ini seperti apa di mata kita, tentukan diri kita di mata orang lain, dan tentukan diri kita di mata Tuhan.
 
Hal ini sejalan dengan para pencari cinta. Mereka berkeliaran kemana mana mencari di mana cinta. Ada yang menemukan cinta hanya pada tuhan saja, ada yang pada dirinya sendiri, ada pada benda, atau pada manusia yang lain.
 
Tetapi, pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan mengingkan cinta yang dibenamkan pada diri kita untuk ditumbuh kembangkan? Dalam cintaNya, Ia mengingkan keharmonisan, keseimbangan, proporsional, dan kejujuran serta keterbukaan diri menerima cahayaNya.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang 16 Oktober 2009

by Asep Ahmad Maulana on Sunday, February 6, 2011 at 5:05pm Pagi, 16 October 2009 Sebait lagu mengalun indah, di saat ku torehkan sedikit tulisan dilembaran ini. Di saat pagi masih lekat dengan hitamnya sisa malam, di saat tabuh terhenti, suara-suara di masjid dan surah tak terdengar lagi. Pikiranku enggan untuk tenang, ada ego yang membuat aku merasa kecewa, ada nalar yang memaksaku harus merelakan hari ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Seminggu lalu aku merasakan kebahagian. Kebahagian akan suatu momen yang akan dijelang di hari ini. Aku tersenyum, aku berharap, aku cemas, aku menunggu, dan hari ini jelas, momen yang membahagiakan itu, tidak akan terjadi hari ini. Aku harus kembali mengatakan entah. Entah. Entah dan entah kapan akan terjadi semua yang kumimpi. Bagi orang lain ini sederhana, hanya masalah datang dan tidaknya kekasih yang tercinta; tetapi bagiku berbeda. Ego ini memaksa aku untuk memaksa dia datang ke sini, dengan pertimbangan dia harus i...

Dua jam bersama Bule

Met The Bule    By Asep Ahmad Maulana Met the bule . Begitulah disebutnya. Semalam sebuah pesan muncul di hp, “I have 3 bule (Australia, france, and Holland) any idea?” Dan pikiran pun bimbang. Aku rasakan kebimbingan. Mengapa? Aku sudah berhenti berbicara bahasa Inggris  sekitar 3 tahun dan tak pernah menggunakannya lagi, teakhir aku gunakan ketika Roolie dan Styn, dua  Bag packer Belanda  yang dibawa oleh seorang teman di Cianjur. Karena mereka orang belanda sangat mudah bagiku berbicara karena banyaknya warisan sejarah pemerintahan kolonial Belanda di daerahku. Dan, diwaktu itu aku masih aktif menggunakan bahasa Inggris.  Aku beranjak menuju rumah temanku untuk menemui tiga bule, dan semakin dekat langkahku semakin ngak karuan pikiranku. What will I do there? Pikirku terus bertanya hal itu. Tetapi, setibanya di sana. Sebaris senyuman aku dapatkan dari dua orang perempuan, Martinde dan Sarah. Martinda adalah seoran...

Semalam yang hangat.

by Asep Ahmad Maulana on Saturday, March 19, 2011 at 7:26am Suatu kebahagian, di saat malam menjelang, dan sayapnya mulai menutup alam. Hitam, kelam, dan setitik hujan menghantarkan malam yang sedikit terguncang dengan getaran gempa, dan aku tidak terperanjak dengan getaran yang cukup besar, larut dalam percakapan bersamanya. Percakapan yang sangat menyenangkan, bagiku, saat dia bercerita tentang hari-hari yang terlalui—biasa selalu aku yang memulai dan berbicara tentang diriku, tapi malam tadi ia bercerita tentang kehidupannya. Mungkin hal ini suatu yang sepele bagi yang lain tapi untukku tidak. Secara, jarak yang jauh intensitas pertemuan pun sangat jarang, hingga sms dan telepon lah yang menjadi peneman dan penjaga kepercayaan satu sama lain. Resiko memang tinggi. Hubungan jarak jauh ini, bagiku, hanya bisa dijaga dengan kejujuran diri terhadap diri, kejujuran diri terhadapnya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Karena tidak jarang hubungan seperti ini berakhir tan...